
Jakarta, CNN Indonesia –
Badan Pengusahaan Batam (BP) merupakan instansi pemerintah pusat yang berwenang mengelola, mengembangkan dan membangun di Batam.
Pada tahun 1971, pemerintah pusat mengalihkan pembangunan Batam kepada Badan Pengembangan Kawasan Industri Pulau Batam, atau yang kemudian disebut Otorita Batam. Batam Sarkar merupakan tempat lahirnya BP Batam yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 1971.
Presiden pertama pemerintahan Batam adalah Ibnu Sutovo yang dilantik pada 26 Oktober 1971. Tanggal tersebut dikenal juga dengan Hari Ulang Tahun BP Batam atau sekarang Hari Buruh BP Batam. BP Batam juga sudah mulai membangun Pulau Batam.
Tahun 1971-1976 merupakan masa persiapan. Dari tahun 1976 hingga 1978, JB Summerlin memimpin masa konsolidasi. Lalu,B. Habibi 1978-1998 sebagai masa pembangunan infrastruktur dan penanaman modal.
Di bawah kepemimpinan Habibi, pembangunan ekonomi dan infrastruktur Batam tumbuh pesat. Batam dikenal sebagai tujuan investasi dan bisnis internasional.
Presiden Pemerintah Batam kembali berganti, kali ini J. Habibi memerintah selama empat bulan pada tahun 1998 dan menggantikan Ismat Abdullah yang memerintah pada tahun 1998 hingga 2005. Ismet Habibi berkembang, dengan fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan investasi.
Mostofa Wijaya kemudian melanjutkan perannya sebagai Presiden Pemerintahan Batam (2005-2016), dengan fokus pada peningkatan sarana dan prasarana, penanaman modal, dan peningkatan kualitas lingkungan.
Kemudian pada tahun 2016-2017, pengelolaan BP Batam diserahkan kepada Hatanto Rexodipotro. Pada periode tersebut, kinerja Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam meningkat drastis hingga menjadi zona berdaya saing internasional.
Sejak tahun 2017 hingga tahun 2019, BP Batam melaksanakan reformasi untuk meningkatkan kinerja guna mewujudkan Batam yang terkemuka, berkeadilan, dan berkelanjutan. AD Putra Irrawaddy, yang menyelesaikan transisi reformasi pada tahun 2019, mengambil alih jabatan CEO BP.
Dari sana, jabatan Kepala BP diserahkan kepada Mohammed Rudi yang bertahan hingga saat ini. Wakil Bupati Purwanto, Mohamed Rudi, bersama anggota empat daerah, Alexander Zulkarnine, Enoch Suharto Pranoto, Sudirman Saad, dan Van Darussalam, memprioritaskan sektor infrastruktur yang sehat untuk meningkatkan konektivitas sekaligus mendorong kemajuan perekonomian di Batam.
Pembangunan jalan protokol, pembangunan flyover Madani dan pembangunan flyover Lelabahari, pembangunan Pelabuhan Batu Ampar dan Bandara Internasional Khan Nadeem serta akuisisi Proyek Strategis Nasional Rempang Eco City merupakan rekam jejak keberhasilan BP Batam. Dalam pembangunan dan kemajuan Kota Batam.
Peran BP Batam juga memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Batam yang meningkat menjadi 7,04 persen pada tahun 2023. Angka tersebut lebih tinggi 5,20 persen dibandingkan pertumbuhan ekonomi Kepri dan lebih tinggi 5,05 persen dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
BP Batam telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia dalam perjalanannya. Kini, setiap tanggal 26 Oktober diperingati perjuangan dan dedikasi para pengurus badan tersebut untuk menjadikan Batam sebagai tujuan investasi global. (rir/rir)