
Jakarta, CNN Indonesia —
Setidaknya sembilan orang, termasuk anak-anak, tewas dalam serangan junta Myanmar terhadap sebuah gereja di negara bagian Kachin pada Jumat (15/11).
Radio Free Asia (RFA) melaporkan bahwa angkatan udara Myanmar menyerang sebuah gereja di dekat perbatasan Myanmar-China yang digunakan warga sebagai kamp pengungsi.
Menurut Naw Bu, petugas informasi Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), pemerintah Myanmar menyerang sebuah gereja di desa Konlaw, yang dekat dengan kamp pengungsi.
“Serangan itu berdampak pada anak-anak kamp yang sedang bermain di area tersebut, di kamp dan di gereja,” kata Nav Bu kepada RFA.
“Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan seluruh anaknya, enam orang meninggal dunia,” lanjutnya.
Total, serangan tersebut menewaskan sembilan orang yang berada di dekat lokasi ledakan bom.
Naw Bu mengatakan tidak ada tantangan dari kelompok teroris terkait penyerangan tersebut. Dia juga mengatakan bahwa serangan terhadap pengungsi dan bangunan keagamaan adalah kejahatan perang.
Selain korban tewas, Naw Bu juga menyebut 11 orang terluka akibat ledakan bom tersebut. Tujuh dari mereka berada dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit dekat Lai Zar di perbatasan Tiongkok.
Serangan itu terjadi beberapa hari setelah pemimpin junta Min Aung Hlaing menyerukan perundingan damai. Permohonan tersebut disampaikan saat kunjungan ke Tiongkok pada 5 November.
Pasukan anti-junta menolak seruan Min Aung Hlaing dan hanya menganggapnya sebagai taktik untuk menyenangkan Tiongkok.
Sejak pengambilalihan militer di negara itu pada tahun 2021, Tiongkok telah menawarkan untuk menengahi rekonsiliasi dengan Myanmar.
Meskipun demikian, pertempuran antara tentara dan teroris terus berlanjut dan diperkirakan akan semakin intensif dalam beberapa minggu mendatang. Pasukan Junta dikatakan memanfaatkan kekeringan untuk mencoba merebut kembali wilayah yang direbut oleh kelompok teroris tahun lalu.
Di Kachin bagian utara Myanmar, pejuang KIA telah mencapai keberhasilan yang signifikan, merebut beberapa pos militer serta tambang batu giok. Mereka juga berhasil melindungi dunia eksotik dan banyak jalur penyeberangan antara Myanmar dan China.
Akibatnya, tentara melancarkan serangan udara untuk menakuti para teroris. Menurut kelompok hak asasi manusia (HAM), serangan ini sering menyasar warga sipil.
Dari Januari hingga Oktober, serangan drone militer menewaskan 540 orang di seluruh Myanmar. (blq/rds)