
Denpasar, CNN Indonesia –
Dua pasangan calon (Paslon) gubernur dan wakil gubernur Bali berebut ide bagaimana menyikapi relatif banyaknya tindak pidana kekerasan seksual atau TPKS di Pulau Bali, dan masing-masing mempunyai strategi masing-masing.
Debat ketiga jelang Pilgub Bali 2024 mengusung tema “Ngardi Bali Shanti Lan Jagdhita” yang membahas isu ketenagakerjaan, perempuan, anak, dan kelompok marginal.
Debat terakhir jelang Pilgub Bali 2024 berlangsung pada Rabu (20/11) malam di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
Pada awalnya moderator membacakan pertanyaan dari para panelis mengenai tingginya tingkat TPKS di Bali. Pertanyaan panelis juga mengungkap data UPT PP Bali sepanjang tahun 2023, terdapat 154 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan di Pulau Dewata.
Paslon nomor urut 2, Kegub Wayne Koster menjawab, UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang TPKS baru diundangkan dan baru berlaku satu tahun.
“Oleh karena itu, Coster-Giri akan melaksanakan program berikut. Pertama, membentuk tim sosialisasi dan edukasi di bidang ketentuan yang diatur dalam UU TPKS. Bekerja sama dengan universitas dan persaudaraan perempuan untuk menyadarkan masyarakat luas akan undang-undang ini,” kata Koster.
Kemudian yang kedua, membentuk forum yang melibatkan para pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan dan melaporkan aspirasi serta bersama-sama mengatasi permasalahan TPKS terhadap perempuan, menyediakan rumah aman bagi perempuan korban kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Bali, dan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan kota di seluruh wilayah. Bali jadi semua orang siap ketika menghadapi masalah yang sama.
“Kami juga mendorong aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan kekerasan seksual.”
Sementara itu, calon nomor urut 1 Jodi, Med Muliawan Arya alias Dee Gadjah menjawab, pemberitaan kekerasan di seluruh Bali terus meningkat, bahkan di UPTD PPA Provinsi Bali pada tahun 2023 dilaporkan sebanyak 154 kasus.
Artinya, gubernur sebelumnya tidak menganggap serius kasus kekerasan seksual dan pedofilia di Bali, kata De Gadjah.
Menurutnya, upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan seksual sangat penting. Sebagai bagian dari upaya preventifnya, partai ini akan mengatasi beberapa masalah seperti kesadaran dan pendidikan di sekolah untuk anak-anak dan masyarakat melalui desa adat, kesadaran akan pendidikan kesehatan reproduksi, sosialisasi kepada orang-orang dengan penyakit menular seksual, dan pendidikan pertahanan diri dan seksualitas. Kekerasan
“Tentunya ada program bela diri di sekolah-sekolah (dari SD hingga SMP). Melatih guru, tenaga kesehatan, pekerja sosial untuk mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini dan yang terpenting menciptakan layanan dan aplikasi yang memudahkan korban melaporkan kekerasan,” kata Gerindra Bali.
Sementara itu, Wagub Koster kembali bereaksi. Dia menilai tingginya data TPKS di Bali disebabkan masyarakatnya yang rajin melaporkan kasus dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Bisa jadi masyarakat di Bali lebih rajin melaporkan pendataan dibandingkan daerah lain di Indonesia, jadi sepertinya banyak. Namun saya melihat aparat penegak hukum seperti polisi dan kejaksaan bereaksi sangat cepat terhadap kasus kekerasan seksual di Bali, kami memantau situasi di media,” ujarnya.
Gubernur saat ini mengatakan, penegakan hukum di Bali sudah sangat baik dalam menangani TPKS, dan ke depannya kejadian tersebut harus dicegah terlebih dahulu agar bisa dikendalikan dengan lebih baik.
“Untuk memperluas pemahaman tersebut, mulai dari anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dengan menghubungkan seluruh elemen masyarakat, khususnya kegiatan pendidikan. Selain menghubungkan masyarakat dan komunitas, termasuk desa adat, untuk fokus menyelesaikan masalah kekerasan di desa, desa pelayanan, dan desa adat,” kata Ketua PDIP Bali ini. (kdf/anak)