
Jakarta, CNN Indonesia.
Ketua Dewan Permusyawaratan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (IGP), Gomar Gultom, mengatakan pemerintah harus melakukan penghematan dan menutup celah korupsi jika diperlukan dana tambahan.
Gomar mengatakan, menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12 persen harusnya menjadi langkah terakhir pemerintah.
Menurutnya, pemerintahan gemuk yang ada saat ini merupakan pemborosan yang tidak perlu dan membebani rakyat.
“Korupsi juga berdampak pada masyarakat. Menurut saya, kenaikan PPN harusnya menjadi langkah terakhir jika dua hal sebelumnya dilakukan secara serius,” kata Gomar saat dihubungi, Selasa (24/12).
Gomar mengaku beberapa waktu lalu mempertanyakan rencana Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono yang menaikkan PPN.
“Saya memahami bahwa pemerintah membutuhkan dana untuk terus membangun dan menata negara. Dan untuk itu, pemerintah meningkatkan pendapatan melalui pajak,” ujarnya.
Gomar merasa beban masyarakat semakin berat seiring berjalannya waktu, apalagi dengan melemahnya perekonomian global pasca pandemi. Menurutnya, masyarakat kini sedang meradang.
Menurut dia, pemerintah tidak bisa membandingkan besaran PPN Indonesia dengan negara maju seperti Amerika Serikat atau Eropa Barat.
“Di sana, selain tingkat pendapatan yang sangat tinggi, negara juga memberikan berbagai fasilitas yang memungkinkan penduduknya hidup nyaman tanpa perlu membayar tambahan. Ada beberapa fasilitas umum yang tersedia. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah akan menerapkan kenaikan PPN sebesar 12% mulai 1 Januari 2025. Rencana ini mendapat penolakan dari masyarakat luas.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim kebijakan kenaikan PPH bersifat selektif dan hanya menyasar barang dan jasa mewah atau premium. (kamu/kakak)