
Jakarta CNN Indonesia –
Polisi di Sumatra utara telah melakukan investigasi kriminal ke Simpang Empat, Kabupaten Asahan, IPDA Akhmad Efendi (AF), seorang tersangka dalam penindasan Pandu Brata Siregar (18).
Dua petugas polisi dari Departemen Kepolisian Simpang Empat juga membantu, para tersangka adalah Dimas Adrianto Pratama (DAP) dan Yudi Siswoyo (YS).
Sejauh menyangkut remaja itu, Departemen Kepolisian Azahan sebelumnya ditolak pada akhir kematiannya. Namun, setelah polisi Sumatra akhirnya melewati penyelidikan, Pandu diyakini telah meninggal setelah mantan penyelidikan kriminal Simpda Epada Epada Ahmad Efendi, dengan bantuan polisi Bangpur.
Kepala Kepolisian Regional Sumatra Nuea Kombes Sumaryono mengatakan motivasi pelanggar untuk menganiaya korban adalah karena mereka terganggu oleh para korban dan teman dan mereka akan melarikan diri ketika mereka aman. Selain itu, penjahat itu juga frustrasi karena teman korban memiliki penjahat.
–
Rujukan Detsumut tergantung pada studi IPDA Akhmad Efendi. Ingin menyembunyikan penindasan.
“Ya (ingin menutupi)” Kasat Reskrim Asahan, Polisi AKP Ghulam Yanuar.
Guram mengatakan Ahmad memerintahkan dua tersangka lain untuk tidak tahu bagaimana menekannya. Dua tersangka lainnya adalah kantor polisi (Banpol). Departemen Kepolisian Simpang Empat adalah Dimas Adrianto Pratama (DAP) dan Yudi Siswoyo (YS).
Dia menjelaskan, “Ya, benar (tidak diterima).
Patroli balap
Sumaryono mengatakan acara itu dimulai pada hari Sabtu (8/3) dan sekitar 23,45 WIB.
Pada waktu itu, pelaku adalah Banpol Dimas, menuju ke sisi pabrik Sintong Abadi di desa Sei Lama, distrik Simpang Empat, dan mengendarai sepeda motor.
Dia menjelaskan: “DAP mulai memeriksa kegiatan balap yang ramai, dan ada banyak orang di sana. Ada korban dengan teman -teman mereka.”
Setelah itu, sekitar 00.30 WIB pada hari Minggu (9/3), beberapa personel Simpang Empat tiba di lokasi untuk membubarkan kerumunan. Setelah itu, penjahat DiMas melihat lima orang mengendarai sepeda motor. Salah satu dari lima orang adalah korban Pandu.
Penjahat Dimas mengejar lima orang. Setelah itu, para penjahat Banpol Yudi dan Ipda Akhmad membawa sepeda motor dan mengendarai sekelompok korban.
Dia berulang kali menendang sepeda motor korban sambil mengejar sepeda motor. Setelah itu, kolega korban melompat.
Meskipun korban berhasil dilumpuhkan oleh dampaknya.
“Korban ditangkap oleh DAP dan menabrak korban dengan punggung dan kepalanya menabrak lantai,” jelasnya.
Tonpi senpi
Setelah itu, Dimas berjalan ke perut korban dua kali dengan kaki kanannya. Sementara itu, penjahat korban menggunakan lututnya.
Selain itu, Dimas menggunakan tangannya tiga kali ke wajah korban dan menabrak leher korban dua kali lagi.
Tak lama kemudian, Sumaryono mengatakan IPDA Akhmad datang dan segera menendang korban dengan dampak perut.
Setelah itu, penjahat Ahmad menyuruh korban duduk dan mengarahkan pistol ke korban.
“Pidana AE mengatakan kepada korban untuk duduk dan penjahat itu mengarahkan pistol ke korban,” kata Samarino.
Setelah insiden itu, penjahat Dimas mengirim korban ke sepeda motornya. Korban kemudian dipindahkan ke kantor polisi Simpang Empat dan membawanya ke kantor polisi.
Setelah tiba di polisi yang terluka, itu dibawa ke Pusat Kesehatan Simpang Empat karena cedera di departemen pengukuran. Setelah itu, korban dibawa kembali ke kantor polisi untuk tes urin.
Sekitar 13.30 jam. Selama akhir pekan, korban dipukul oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerabat Sei Laa.
Namun, pada Senin pagi (10/3), korban dibawa ke ruang gawat darurat Rumah Sakit Regional Kissalan, dan hasilnya menunjukkan bahwa korban dapat menguji sinar-X dan tes darah. Namun, pada pukul 16:30 pada hari Senin, korban meninggal.
“Sekitar 16:30 jam,” kata Sumariono. “Korban dinyatakan meninggal di rumah sakit, dan muatan (dokter) disebabkan oleh mati lemas dada dan perutnya terjepit.”
Baca berita lengkapnya di sini (Kid/Gil)