
Yakarta, CNN Indonesia –
Dua bos PT Patra Niaga, Maya Kusmaya dan Edward Corne segera ditangkap oleh Jaksa Agung (kembali) pada hari Rabu (26/2) malam ini. Keduanya dinamai mencurigakan dalam korupsi minyak mentah dan kilang minyak PT.
Mereka ditangkap di Pusat Penahanan Salemby di Kantor Kejaksaan selama 20 hari, dari 26 Februari hingga 17 Maret 2025.
“Selain itu, kelompok penelitian tetap menjadi penangkapan selama 20 hari ke depan,” kata Dirdik Jampids -jampid -ug. Abdul Kohar pada konferensi pers di Yakarta pada hari Rabu.
Abdul mengatakan Maya adalah Direktur Pusat Pemasaran dan Perdagangan, sementara Edward Corn adalah wakil presiden produk Patra Niaga.
Dia menjelaskan bahwa dua orang diperiksa dari jam 3:00 malam. sebagai saksi mereka. Selain itu, para peneliti menemukan cukup bukti partisipasi mereka dalam kasus korupsi.
“Para peneliti menemukan cukup bukti bahwa diduga bahwa dua tersangka melakukan pelanggaran pidana dengan tujuh tersangka yang kami transfer,” katanya.
Dilaporkan bahwa yang lalu disebut tujuh tersangka yang terdiri dari empat saham dan tiga partai swasta dalam dugaan korupsi minyak dan kilang minyak PT. Salah satunya adalah Riva Sahaan sebagai presiden Direktur Pt Patra Niaga.
Kemudian, SDS sebagai Direktur Promosi Pangan dan Optimalisasi PT PT Tlang Intervinasistal, dan sebagai Presiden Direktur PT Performa International Shiping, AP sebagai Manajemen Tindakan Internasional Pamina Pakan VP.
Selain itu, sebagai pemilik menguntungkan PT Navigator Khatulistiwa, sebagai Komisaris PT Navigator Khatulistiwa, serta Komisaris PT Jenggala Maritime dan yrj sebagai Komisaris Pt Jenggala Maritime, serta Direktur Pelaksana PT Orbit Terminali Mera.
Kembali, total hilangnya kekuatan negara dalam kasus ini mencapai 193,7 miliar rupee. Rinciannya adalah hilangnya ekspor minyak mentah domestik sekitar 35 miliar rubel, dan kemudian hilangnya impor minyak mentah melalui DMUT/broker adalah sekitar 2,7 miliar rubel.
Selain itu, hilangnya impor bahan bakar melalui DMUT/broker adalah sekitar 9 miliar rubel; Hilangnya kompensasi (2023) sekitar 126 miliar rubel; dan kerugian subsidi (2023) sekitar 21 miliar rupee.
(DIS/TSA)