
Solo, CNN Indonesia –
Pt Sri Remeki Isman (TBK) AliasSretex menerima putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak banding. Namun salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia itu akan mengajukan peninjauan kembali (PK) atas keputusan tersebut.
Hal tersebut disampaikan CEO Sritex Iwan Kurniawan Lukminto dalam keterangan tertulis yang diperoleh fun-eastern.com pada Jumat (20/12). Keputusan itu diambil setelah konsolidasi internal perseroan menyikapi putusan Mahkamah Agung.
“Upaya hukum ini kami lakukan agar kelangsungan usaha tetap terjaga,” kata pria yang akrab disapa Wawan itu.
Upaya tersebut, lanjut Wawan, juga dilakukan karena banyaknya warga yang bekerja di pabrik SRITEX. Pendiri SRITEX ini menegaskan, perusahaannya berkomitmen untuk terus mempekerjakan 50.000 karyawan.
“Langkah hukum ini kami ambil bukan hanya untuk kepentingan perusahaan, tapi kami memberikan ambisi kepada seluruh keluarga besar Sritex,” ujarnya.
Wawan mengatakan perusahaannya berjuang untuk terus menjalankan bisnisnya sementara kasasi Mahkamah Agung masih menunggu keputusan. Mereka juga tidak menyelesaikan masa kerja (PHK) dalam seluruh proses hukum.
“Upaya kami tidak sederhana karena keterbatasan waktu dan keterbatasan sumber daya,” ujarnya.
Pasalnya, dengan masih berjalannya proses hukum di Mahkamah Agung, Sritex tetap bangkrut. Akibatnya, SRITEX tidak bisa leluasa membeli bahan mentah atau menjual barang produksi pelanggan.
Ia berharap pemerintah dapat mendukung PT Sritex agar bisa terus beroperasi.
“Kami berharap pemerintah memberikan keadilan hukum yang memperhatikan kemanusiaan dengan mendukung upaya kita untuk terus berusaha dan berkontribusi bagi kemajuan industri TPT bangsa,” kata Wawan.
Sebelumnya, Mahkamah Agung menolak mencopot PT Sri Remeki Isman TBK atau SRITEX karena status pailitnya.
Dengan adanya putusan ini maka status pailit Sritex mempunyai kekuatan hukum tetap.
“Putusan, ditolak,” tulis situs Mahkamah Agung, Kamis (19/12).
Pengadilan Negeri (PN) Semarang Niaga memutuskan pailit Sritex pada Senin (21/10) lalu. Putusan tersebut dikeluarkan atas permintaan yang diajukan PT Indo Bharat Rayon.
Berdasarkan Sistem Pencarian Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Semarang, pemohon yang merupakan debitur menyatakan tergugat lalai dalam memenuhi kewajiban pembayarannya kepada pemohon berdasarkan putusan homologasi tanggal 25 Januari 2022.
Kemudian pemohon meminta putusan Pengadilan Niaga Semarang Nomor no. 12/ pdt.sus-pkpu/ 2021.pn.aniaga.smg tanggal 25 Januari 2022 tentang pengesahan rencana perdamaian (homologasi) dicabut. Penggugat meminta tergugat menyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya.
(selatan/agt)