
Jakarta, CNN Indonesia –
Dewan Dewan Korupsi (Dewas Dewas KPK) memutuskan untuk tidak melanjutkan korupsi dari pengadilan dengan Wakil Presiden Alexander Marvata.
“Hasil komentar dan dewan direksi dewan direksi tidak diterbitkan oleh sesi etika,” kata Tessa Maharkhaarchikarah, Tsaa Maharkhaarchikarah.
Keluhan Dewas dan Hasil dan Hasil dan Hasil dan Hasil dan Hasil dan Hasil Direktorat Korupsi dan PECPS dikirim ke kepala KPK lain dari pengaduan terhadap korupsi.
Pada tanggal 27 September 2024, pada hari Jumat, forum mahasiswa “Hukum” (FMMH). Selain etika, Alex adalah kejahatan terhadap polisi. Kasus ini masih sedang diselidiki. Banyak pihak berkata, termasuk Alex.
Alex Marvata dan Kazakhstan Timur bekerja serta polisi Jakarta. Selama penyelidikan, subdigi Subdigi Ditreskrimsu Subdigi Typidcori mempertanyakan 30 saksi dalam penyelidik Jaya Subdritcrimsu.
Polisi berencana untuk melakukan gugatan untuk menentukan apakah ada unsur kriminal. Jika elemen kriminal ditemukan, kasus ini akan meningkat selama penyelidikan.
“Kemudian, kami menuntut uji coba untuk melakukan langkah -langkah investigasi untuk menyelidiki penyelidikan,” kata Metro Jayan Metro Jayan Jayan Rabu (10/30) menunjukkan Safri Sananzhunts.
Selain itu, pada tanggal 27 Agustus 2024, Pengadilan Distrik Surabaya dari Pengadilan Distrik Surabaya distrik Surabaya (Pengadilan Korupsi) membayar 500 juta yang dijatuhi hukuman enam bulan dan 500 juta tenge dalam empat bulan. Dia menuduhnya.
Hukuman lebih mudah daripada permintaan untuk PPC, yang dipenjara selama delapan tahun dan enam bulan penjara, serta denda 500 juta rps, serta penjara tiga bulan di penjara tiga bulan di penjara tiga bulan.
(Rhin / wis)